11 lines
5.5 KiB
JSON
11 lines
5.5 KiB
JSON
[
|
||
{
|
||
"id": "1",
|
||
"sejarah" : "<p>Asal – usul nama Darmasaba tertuang dalam lontar Usada Bali. Seperti di tulis dalam monografi Desa Darmasaba tahun 1980 silam, nama Darmasaba berkaitan dengan keturunan Danghyang Nirarta diceritakan, Sang kawi-wiku asal Daha (Jawa Timur) itu memiliki cucu bernama Ida Pedanda Sakti Manuaba yang tigggal di Desa Kendran Tegalalang Gianyar. Merasa tidak disenangi sang ayah, Ida Pedanda Sakti Manuaba pergi mengembara bersama dua orang pengiringnya. Pengembaraan sang pendeta sampai di pura Sarin Buana di Jimbaran. Saat mengadakan semedi di tempat ini sang pendeta melihat sinar api. Yang sangat jauh di utara. Timbul keinginan Ida Pedanda Manuaba untuk mengunjungi tempat itu. Sampailah sang Pedanda di pura Batan Bila Peguyangan. Disini Ida Pedanda Manuaba singgah menghadap Ida Pedanda Budha yang tinggal disana. Selanjutnya, kedua pendeta bersama-sama menuju arah utara dan singgah di Taman Cang Ana, sebuah taman milik Arya Lanang Blusung. Di tempat ini kedua pendeta bersama-sama melaksanakan semedi dan menetap untuk sementara waktu.</p>",
|
||
"visi" : "<p>Mewujudkan Desa Darmasaba yang sejahtera, unggul, religius, berbudaya, dan aman dengan berlandaskan Tri Hita Karana</p>",
|
||
"misi" : "<ul><li>Memperkokoh kerukunan hidup masyarakat dalam jalinan adat, budaya, olahraga, dan agama.</li><li>Meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi terintegrasi.</li><li>Meningkatkan tata kelola pemerintah desa dengan menerapkan prinsip good governance dan good clean government.</li><li>Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, Keluarga Berencana serta pengelolaan kependudukan.</li><li>Memperkuat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan BUMDesa sebagai pilar ekonomi masyarakat.</li><li>Mewujudkan tatanan kehidupan bermasyarakat yang menjunjung tinggi penegakan hukum dan HAM.</li><li>Meningkatkan perlindungan dan pengelolaan terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup.</li><li>Memperkuat daya saing desa melalui peningkatan mutu sumber daya manusia dan infrastruktur desa berbasis potensi desa.</li><li>Meningkatkan sinergisitas potensi budaya, pertanian dalam arti luas dan pariwisata.</li></ul>",
|
||
"lambang" : "<ul><li>Memperkokoh kerukunan hidup masyarakat dalam jalinan adat, budaya, olahraga, dan agama.</li><li>Meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi terintegrasi.</li><li>Meningkatkan tata kelola pemerintah desa dengan menerapkan prinsip good governance dan good clean government.</li><li>Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, Keluarga Berencana serta pengelolaan kependudukan.</li><li>Memperkuat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan BUMDesa sebagai pilar ekonomi masyarakat.</li><li>Mewujudkan tatanan kehidupan bermasyarakat yang menjunjung tinggi penegakan hukum dan HAM.</li><li>Meningkatkan perlindungan dan pengelolaan terhadap sumber daya alam dan lingkungan hidup.</li><li>Memperkuat daya saing desa melalui peningkatan mutu sumber daya manusia dan infrastruktur desa berbasis potensi desa.</li><li>Meningkatkan sinergisitas potensi budaya, pertanian dalam arti luas dan pariwisata.</li><li>Memperkuat daya saing desa melalui peningkatan mutu sumber daya manusia dan infrastruktur desa berbasis potensi desa.</li><li>Meningkatkan sinergisitas potensi budaya, pertanian dalam arti luas dan pariwisata.</li></ul>",
|
||
"maskot" : "<p>Pudak adalah bunga dari tanaman sejenis pandan (Pandanaceae). Bentuk bunga ini tersusun dalam beberapa lapisan, terbungkus oleh kelopak warna putih (semacam daun lonjong) yang ujungnya meruncing.</p><p>Bunga Pudak berwarna kuning dan akan terlihat jika kelopak atau pelepahnya telah mekar. Kekhasan dari bunga pudak, yaitu mempunyai aroma wangi yang semerbak nan lembut (tidak menyengat), dan dapat menebar keharuman sepanjang pagi atau pun sore hari. Tanaman ini dapat tumbuh di sepanjang pantai, aliran sungai, di atas batu-batu karang, dan juga di tanah ladang.</p><p>Dalam Kamus Jawa Kuna- Indonesia kata “Pudak” berarti bunga pandan atau Pandanus Moschatus (Mardiwarsito: 1981: 442). Selain itu bunga pudak juga dapat disebut ketaka atau ketaki (Mardiwarsito, 1981: 276). Sedangkan kata “Sategal” berasal dari kata dasar “Tegal” yang berarti ladang (Mardiwarsito, 1981: 593). Jadi Pudak Sategal dapat diartikan sebagai satu ladang luas yang dipenuhi bunga pudak dan menabar keharuman.</p><p>Pada sebuah kesempatan, Ida Pedanda Putu Pemaron menjelaskan mengenai makna dari istilah Pudak Sategal dengan sebuah analogi bahwa, sekuntum bunga pudak memiliki aroma wangi atau keharuman yang sangat kuat, apalagi jika satu ladang penuh bunga pudak, maka dapat dipastikan aroma keharumannya akan membumbung menyebar ke segala penjuru (Wawancara, 18 Mei 2019 di Geria Putra Mandara Kenderan, Tegallalang). “Pudak” ialah sebuah bunga yang memiliki aroma wangi atau keharuman yang semerbak, lembut, dan khas.</p><p>Garapan Tari Maskot Desa Darmasaba Sekar Pudak diwujudkan ke dalam bentuk tari kreasi yang ditarikan secara berkelompok dengan jumlah lima orang penari perempuan (putri).</p><p>Pemilihan penari perempuan dimaksudkan untuk mempresentasikan keindahan, keluwesan, dan keharuman dari bunga pudak. Sedangkan penetapan jumlah penari lima orang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan koreografi agar dapat membentuk desain-desain komposisi lantai yang menarik dan dinamis, baik ketika ditarikan di area panggung yang luas atau pun area panggung yang kecil. Penyajian tari maskot ini dirancang dengan durasi waktu 9 menit.</p>",
|
||
"profilPerbekelId" : "1"
|
||
}
|
||
] |